Meski memiliki cita-cita untuk bersolo karir menjadi Working at Home
Mom (WAHM), saya mesti tetap mengakui dan mensyukuri status saya sebagai
Working Mom (Ibu Bekerja-di luar rumah).
Sebelum
menikah dulu, sudah jadi impian saya kelak kalo sudah berumah tangga dan memiliki
anak, sedapat mungkin, semua urusan di atas, saya yang mengerjakannya. Kalaupun
dikaruniai asisten rumah tangga, dia cukup membantu saja. Bukan kepengen
menjadi Super Mom sih, hanya saja sudah menjadi prinsip hidup pribadi...ciieee..
Menjalani
rutinitas sebagai Working Mom, tanpa asisten rumah tangga, dengan 2 anak yang
satunya dalam usia Kindergarten dan yang lainnya baby 9 bulan, menuntut saya
harus bisa menjalankan tugas dan peran saya ekstra multitask, dan juga memiliki
manajemen waktu yang baik. Mulai dari bangun, saat teduh, memasak, menyiapkan
sarapan sampai menu makan siang keluarga sekaligus bekal untuk anak ke sekolah,
dan tak lupa menyiapkan MPASI untuk baby-ku (yang jelas-jelas, proses
memasaknya tidak bisa digabung dengan proses masakan keluarga), semua harus
dihandle oleh seorang Mama seperti saya sebelum berangkat ke kantor. Apalagi saya seorang yang cukup idealis soal makanan. Saya tidak mau membeli makanan di luar yang belum tentu bebas dari MSG, tidak tahu proses pengolahan bahkan tidak jelas informasi kebersihannya terjamin atau tidak. Itulah mengapa saya selalu memaksakan diri untuk memasak makanan sendiri untuk keluarga sebelum berangkat kerja. Dan semua
hal itu tidak jarang membuat saya frustasi.
Kebetulan
jam kerja di kantor saya dimulai pukul 09.00 WIB. Seharusnya, saya punya banyak
waktu untuk mengerjakan tugas-tugas di atas kalau saya biasanya bangun pagi jam
4. Kenyataannya, saya biasa bangun pagi jam 4, tapi waktu Indonesia bagian tengah lewat sedikit, alias jam 5 pagi, hampir 5.30 WIB...OMG..!!! Saya belum ke
pasar... jadwal si mas tukang sayur datang setor dagangannya sekitar pukul 7
pagi. Sudah bisa ditebaklah, kebanyakan dari rencana tugas-tugas indah di atas
itu tidak terselesaikan dan saya sibuk mengeluh dan menyalahkan diri bahkan
melampiaskan kekesalan pada papanya anak-anak juga. Astagaaa...!!! Ada kalanya waktu bangun tidak sempat saat teduh, demi memburu waktu ke pasar. Ada juga yang akhirnya tidak sempat mengolah MPASI untuk si adik karena waktunya mepet, hingga dengan terpaksa, memberinya makanan instan yang sejak awal saya beli di pasar swalayan sebagai cadangan khususnya untuk moment-moment seperti ini. Pernah juga si kakak berangkat sekolah dengan bekal ala kadarnya, alias hanya membawa bekal snack kemasan yang tidak mengenyangkan..yah iyalah, namanya juga snack... Aaaahhh...sediihh..
Saya
tidak patah semangat. Meskipun keseringan tidak rampung dalam menunaikan
tugas rumah tangga seorang Ibu Bekerja, saya tetap bertekad, mau tetap berjuang dengan semangat 17-an,
menentukan target baru, tambah 1 tugas, yaitu bisa mengantar si kakak ke
sekolah. WHAT?? Mengapa? Dengan tugas yang seabrek-abrek di atas itu aja tidak
mampu diselesaikan, lah kok ditambah lagi tugasnya?
Alasannya,
karena saya iri. Iya, saya iri pada teman-teman saya yang sudah beralih profesi
jadi Stay at Home Mom. Hahaha..ini motivasi yang tidak benar. Bagaimana tidak,
kalau lihat wall FB beberapa teman itu, betapa senang dan bangganya mereka bisa
mendampingi anak-anak mereka memasuki hari-hari pertama bersekolah. Rasanya,
sayaaannngg sekali kalau kehilangan babak demi babak perkembangan dan
pengalaman anak-anak. Benar
juga yang dibilang, masa kecil anak-anak tidak akan pernah terulang. Mereka
menikmati episode demi episode kehidupan mereka. Berbagai macam rasa bercampur
aduk memenuhi hati mereka saat memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Dan
di saat itu, siapa yang mereka butuhkan? Jawabannya KITA, orang tua mereka,
papa dan mama mereka, bukan Oma atau si Mbak. Apalagi ketika mereka belajar
mengenai kasih Allah dalam hidup mereka.
Saya
pernah membaca suatu kalimat yang sampai saat ini selalu saya tanam dalam-dalam
pada hati saya, "Anak-anak belajar melihat wajah, kasih dan karakter Allah
dalam diri orangtua mereka. Bagaimana mereka dapat melihat itu jikalau orangtua
mereka JARANG ada bagi mereka?" Saya tidak mau seperti itu. Meski dengan segala keterbatasan waktu, dan keseringan gagal menjalankan tugas-tugas sebagai Ibu, saya tetap mau bangkit dan melakukannya dengan segenap hati. Meski masih kadang gagal juga sih...heheheh...
Saya berpikir, mungkin selama ini saya terlalu memaksakan diri. Dengan sadar, saya cenderung menjadikan diri saya sebagai Mama yang ideal, Mama Hebat a.k.a Super Mom. Ternyata saya bukan Super Mom. Yah iyalah...menjadi Super Mom menuntut kita bisa simsalabim.... abracadabra... menyulap semua tuntutan keluarga, pekerjaan dan relasi, suami-istri, ortu-anak, menjadi teratur, berjalan harmonis tanpa meringis dan gagal. Yeaaahh..I think, I am not a Super Mom and I don't wanna be. So, please stop trying to be a Super Mom. Be a wise momma. Be a loving momma, it's better than to be a Super Mom.
Menurut Allison Cohen, M.A.,MFT, seorang counselor, dan SaraKay Smullens, penulis dalam tulisannya di http://www.yourtango.com/experts/allison-cohen-m-a-mft/stop-trying-be-supermom-5-tips-finding-balance We must become our own loving moms to ourselves, caring for ourselves as well as we do for the others we love. Tell yourself, on a daily basis if need be, that no one or nothing is perfect, so you can stop trying to make it so.
Mencoba menjadi Super Mom, membuat kita tidak membutuhkan orang lain. Padahal, kenyataannya, kita masih membutuhkan orang lain. Paling tidak, kita butuh suami kita, papanya anak-anak, sebagai partner kita, bekerja sama dalam menolong kita mengerjakan peran ganda kita sebagai Working Mom. Kita tidak perlu menjadi Super Mom, Super Dad atau Super Parents. My kids don’t need to see a Super Mom. They need to see a Mom who needs a Super God. Anak-anak saya tidak perlu melihat Super Mom. Mereka perlu melihat Ibu yang membutuhkan Allah yang Super.
YUP!!! Di dalam tugas yang terlihat simple ini, kita tetap membutuhkan Allah yang super.


