Tuesday, December 30, 2014

Merayakan Natal dalam Kesederhanaan

Bagi saya, Natal itu mengingatkan saya akan kasih Allah dengan serangkaian karya agung yang dilakukan-Ny bagi umat manusia, melalui kehadiran-Nya dalam diri Yesus Kristus. Kelahiran-Nya membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang percaya. Bagaimana tidak, kita adalah pendosa-pendosa yang hari ini ada dan besok tiada, bak debu yang hilang diterbangkan angin, namun telah diberi hadiah terindah dan terbesar, yaitu keselamatan dan kehidupan kekal.

Namun apakah benar, Yesus telah lahir dalam hati dan hidup kita? Ataukah kita hanya sedang melakukan dan merayakan tradisi setiap tanggal 25 Desember ? Ada seorang kawan lama yang berbeda keyakinan dengan saya menulis dalam salah satu media sosialnya. Dia berkata, dia mengasihi Yesus, namun tidak merayakan Natal, karena dia tahu, Yesus tidak lahir di musim dingin. Hal itu dibahas dengan lengkap dalam blog-nya mengenai bukti-bukti sejarah tentang kelahiran Yesus. Dalam hal ini, saya sependapat. Bagi saya, Natal itu setiap hari. Merayakan Natal bukan hanya setahun sekali dengan gegap gempita dengan segala sesuatu yang serba baru dan wah. Natal itu bukan mengenai tanggal melainkan mengenai kenyataan bahwa memang Yesus pernah lahir. Itulah kebenarannya.



Dan karena kebenaran itulah, kita perlu dengan sungguh-sungguh merenung, sudahkah hidup kita mencerminkan kasih Yesus yang menurut kita sudah lahir dalam hati kita? Natal yang sesungguhnya menorehkan kesan yang mengubahkan hati dan bukan kesenangan sesaat. Jika memang Yesus lahir dalam hati kita, tentunya kita sudah tahu, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal.
 

Allah memilih hadir ke dalam dunia untuk memulai karya penyelamatan-Nya dengan memilih seorang tukang kayu dan wanita sederhana, bahkan memilih kandang sebagai tempat lahir-Nya.

Jangan sampai deh, kita terjebak dengan kemeriahan dan sukacita sesaat, bahkan terlena dengan segala bentuk kemasan dunia yang menakjubkan, yang tanpa sadar, secara perlahan menggantikan bayi Yesus.

Monday, November 3, 2014

Learning by doing : Nge-bento :)

Termotivasi oleh hasrat untuk membuat bento untuk si kakak yang sudah duduk di bangku TK-A. Hasrat iu semakin menggebu-gebu setelah tidak sengaja menonton tayangan di TV tentang aneka bento unik untuk di bawah si kecil ke sekolah.
Dengan peralatan minim dan seadanya, mencoba memacu diri untuk berkreasi menciptakan bento hasil learning by doing untuk anak tercinta.

Bento hari I


Meski penampilan bento ini sangat sederhana, dan tidak se-ciamik bento-bento lainnya, tapi puas banget, karena Raissa sangat suka.
Sepulang kantor, saya langsung disambut di depan rumah dengan request, "Ma, tadi di sekolah Miss Tuty bilang bekal Icha lucu. Besok buat lagi ya, Ma" Hahaha..terharu campur senang karena ada yang memuji..hehehe. "OK sayang, besok mama buat lagi yah"

Namun besoknya, saya benar-benar terlambat bangun. Belum ada konsep mau nge-bento dengan tema apa. Aduh, benar-benar deh "ala kadar" nya.

Bento Hari ke-2



Bento Hari ke-3



 Bento Hari ke-4


Mari nge-bento yuk. Semangat!

Monday, October 13, 2014

Job Vacancy for Position : Mother

Artikel ini saya temukan ketika menjelajah internet pada tahun 2011. Tulisan ini sungguh menarik dan membuat saya bangga dengan jabatan langsung yang diberi oleh Sang Empunya kehidupan, yaitu sebagai IBU.

Artikel ini sangat layak dibaca dan didedikasi bagi setiap Ibu. Tapi mohon maaf, saya benar-benar lupa sumbernya. Kalau ada pembaca yang merasa ini tulisannya, mohon dicomment yah. Tulisan Anda benar-benar memberkati.


:: Lowongan Pekerjaan -- Jabatan : Ibu ::

DESKRIPSI TUGAS:

Menjadi pemain tim purna waktu untuk suatu pekerjaan tetap yang penuh tantangan dalam lingkungan yang sering kacau balau. Para kandidat harus memiliki ketrampilan berkomunikasi dan berorganisasi yang hebat serta bersedia bekerja di waktu-waktu yang tidak menentu, termasuk malam hari, akhir minggu bahkan seringkali harus 24 jam siap panggil. Dibutuhkan kesediaan untuk melakukan beberapa kali perjalanan menginap, termasuk di tempat-tempat perkemahan primitif di akhir minggu yang hujan dan mengikuti setiap pertandingan- pertandingan olahraga di kota manapun. Ongkos perjalanan ditanggung sendiri. Ditambah melakukan tugas antar-jemput yang ektensif.

TANGGUNG JAWAB:

Memberikan pelatihan di tempat tentang ketrampilan dasar mengenai hidup, misalnya pelatihan bagaimana membuang ingus. Harus memiliki keahlian hebat dalam hal bernegosiasi, menyelesaikan konflik, dan mengatasi krisis. Merupakan kelebihan jika memiliki kemampuan mengobati luka daging. Harus mampu berpikir jauh ke depan namun tidak kehilangan arah untuk memikirkan kebutuhan sekarang, karena mungkin akan dibutuhkan untuk suatu tugas proyek sekolah. Harus pandai-pandai mengatur uang belanja yang pas-pasan dan pandai mengatur budget dan sumber-sumbernya secara adil, kalau tidak maka Anda akan mendengar komentar ini sampai akhir hayat Anda, "Tidak adil, dia dapat lebih banyak dari aku!".

Juga, harus bisa mengendarai kendaraan bermotor dengan aman dalam kondisi berisik dan tidak menyenangkan; dan pada saat yang sama harus bisa mempraktekkan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan di atas untuk mengatasi konflik. Harus dapat memilih mana pertikaian yang penting dan dapat menggunakan senjata dengan tepat. Harus tahan terhadap kritikan, seperti "Anda tidak tahu apa-apa." Harus bersedia dibenci, paling tidak untuk sementara waktu, sampai Anda memberikan uang kepadanya untuk bermain skating. Harus bersedia gigit bibir berkali-kali.

Juga, harus memiliki stamina fisik yang bagus seperti sapi bagal yang sanggup membawa beban berat dan dapat lari dari 0 - 90 km/jam selama 3 detik jika terdengar jeritan dari halaman belakang. Harus bersedia menghadapai tantangan-tantangan teknis, seperti memperbaiki perkakas-perkakas kecil, toilet yang mampet secara misterius, dan resleting yang macet. Sanggup menyeleksi telepon masuk, mengatur jadwal, dan mengkoordinasi pekerjaan-pekerjaan rumah yang banyak jumlahnya. Harus memiliki kemampuan untuk merencana dan mengatur pertemuan-pertemuan untuk para klien dari segala usia dan penampilan. Harus bersedia untuk dibutuhkan selama satu menit, tapi dipermalukan pada menit berikutnya. Harus dapat menangani perakitan dan uji coba keselamatan dari setengah juta mainan plastik yang murah dan alat-alat yang digerakkan dengan batere.

Juga, harus memiliki semangat wiraswasta yang tinggi, karena "pencari dana" akan menjadi nama tengah Anda. Harus memiliki pengetahuan dasar yang beragam sehingga dapat menjawab pertanyaan mendadak seperti "Apa yang membuat angin bergerak?" Harus selalu berharap yang terbaik tetapi siap menghadapi hal yang terburuk. Harus berasumsi untuk bertanggungjawab terhadap kualitas dari dari hasil produk akhir.

Tanggungjawabnya juga termasuk memelihara kebersihan lantai dan tugas kebersihan lain di seluruh lingkungan kerja.

KESEMPATAN UNTUK PENINGKATAN JABATAN DAN PROMOSI:

Bisa dibilang tidak ada. Pekerjaan Anda adalah untuk tinggal di posisi yang sama selama bertahun-tahun, tidak boleh mengeluh, terus menerus melatih diri dan meningkatkan ketrampilan Anda sehingga mereka yang berada dalam tanggung jawab Anda pada akhirnya nanti dapat melampaui Anda.

PENGALAMAN:

Sayangnya, tidak diperlukan. Pelatihan di lapangan ditawarkan dalam keadaan yang terus menerus melelahkan.

GAJI DAN KOMPENSASI:

Anda yang membayar mereka, sering menawarkan kenaikan gaji dan bonus. Pembayaran besar tiba pada waktu mereka mencapai umur 18 tahun dengan asumsi bahwa perguruan tinggi akan menolong mereka menjadi mandiri secara finansial. Ketika Anda meninggal, Anda memberikan kepada mereka segala sesuatu yang Anda miliki. Hal yang paling aneh tentang skenario gaji terbalik ini adalah bahwa Anda sesungguhnya menikmatinya dan berharap Anda dapat melakukan lebih dari ini.

KEUNTUNGAN:

Walaupun tidak ada asuransi kesehatan atau asuransi gigi, tidak ada uang pensiun, tidak ada penggantian biaya sekolah, tidak ada tunjangan hari libur, dan tidak ada pembagian saham, pekerjaan ini memberikan kesempatan yang tak terbatas untuk pertumbuhan pribadi dan pelukan gratis selama hidup jika Anda melakukan peran anda dengan benar.

Wednesday, August 13, 2014

I am not a Super Mom. I just a Mom who needs a Super God.

Meski memiliki cita-cita untuk bersolo karir menjadi Working at Home Mom (WAHM), saya mesti tetap mengakui dan mensyukuri status saya sebagai Working Mom (Ibu Bekerja-di luar rumah).



Sebelum menikah dulu, sudah jadi impian saya kelak kalo sudah berumah tangga dan memiliki anak, sedapat mungkin, semua urusan di atas, saya yang mengerjakannya. Kalaupun dikaruniai asisten rumah tangga, dia cukup membantu saja. Bukan kepengen menjadi Super Mom sih, hanya saja sudah menjadi prinsip hidup pribadi...ciieee..

Menjalani rutinitas sebagai Working Mom, tanpa asisten rumah tangga, dengan 2 anak yang satunya dalam usia Kindergarten dan yang lainnya baby 9 bulan, menuntut saya harus bisa menjalankan tugas dan peran saya ekstra multitask, dan juga memiliki manajemen waktu yang baik. Mulai dari bangun, saat teduh, memasak, menyiapkan sarapan sampai menu makan siang keluarga sekaligus bekal untuk anak ke sekolah, dan tak lupa menyiapkan MPASI untuk baby-ku (yang jelas-jelas, proses memasaknya tidak bisa digabung dengan proses masakan keluarga), semua harus dihandle oleh seorang Mama seperti saya sebelum berangkat ke kantor. Apalagi saya seorang yang cukup idealis soal makanan. Saya tidak mau membeli makanan di luar yang belum tentu bebas dari MSG, tidak tahu proses pengolahan bahkan tidak jelas informasi kebersihannya terjamin atau tidak. Itulah mengapa saya selalu memaksakan diri untuk memasak makanan sendiri untuk keluarga sebelum berangkat kerja. Dan semua hal itu tidak jarang membuat saya frustasi.

Kebetulan jam kerja di kantor saya dimulai pukul 09.00 WIB. Seharusnya, saya punya banyak waktu untuk mengerjakan tugas-tugas di atas kalau saya biasanya bangun pagi jam 4. Kenyataannya, saya biasa bangun pagi jam 4, tapi waktu Indonesia bagian tengah lewat sedikit, alias jam 5 pagi, hampir 5.30 WIB...OMG..!!! Saya belum ke pasar... jadwal si mas tukang sayur datang setor dagangannya sekitar pukul 7 pagi. Sudah bisa ditebaklah, kebanyakan dari rencana tugas-tugas indah di atas itu tidak terselesaikan dan saya sibuk mengeluh dan menyalahkan diri bahkan melampiaskan kekesalan pada papanya anak-anak juga. Astagaaa...!!! Ada kalanya waktu bangun tidak sempat saat teduh, demi memburu waktu ke pasar. Ada juga yang akhirnya tidak sempat mengolah MPASI untuk si adik karena waktunya mepet, hingga dengan terpaksa, memberinya makanan instan yang sejak awal saya beli di pasar swalayan sebagai cadangan khususnya untuk moment-moment seperti ini. Pernah juga si kakak berangkat sekolah dengan bekal ala kadarnya, alias hanya membawa bekal snack kemasan yang tidak mengenyangkan..yah iyalah, namanya juga snack... Aaaahhh...sediihh..


Saya tidak patah semangat. Meskipun keseringan tidak rampung dalam menunaikan tugas rumah tangga seorang Ibu Bekerja,  saya tetap bertekad, mau tetap berjuang dengan semangat 17-an, menentukan target baru, tambah 1 tugas, yaitu bisa mengantar si kakak ke sekolah. WHAT?? Mengapa? Dengan tugas yang seabrek-abrek di atas itu aja tidak mampu diselesaikan, lah kok ditambah lagi tugasnya?
Alasannya, karena saya iri. Iya, saya iri pada teman-teman saya yang sudah beralih profesi jadi Stay at Home Mom. Hahaha..ini motivasi yang tidak benar. Bagaimana tidak, kalau lihat wall FB beberapa teman itu, betapa senang dan bangganya mereka bisa mendampingi anak-anak mereka memasuki hari-hari pertama bersekolah. Rasanya, sayaaannngg sekali kalau kehilangan babak demi babak perkembangan dan pengalaman anak-anak. Benar juga yang dibilang, masa kecil anak-anak tidak akan pernah terulang. Mereka menikmati episode demi episode kehidupan mereka. Berbagai macam rasa bercampur aduk memenuhi hati mereka saat memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Dan di saat itu, siapa yang mereka butuhkan? Jawabannya KITA, orang tua mereka, papa dan mama mereka, bukan Oma atau si Mbak. Apalagi ketika mereka belajar mengenai kasih Allah dalam hidup mereka.

Saya pernah membaca suatu kalimat yang sampai saat ini selalu saya tanam dalam-dalam pada hati saya, "Anak-anak belajar melihat wajah, kasih dan karakter Allah dalam diri orangtua mereka. Bagaimana mereka dapat melihat itu jikalau orangtua mereka JARANG ada bagi mereka?" Saya tidak mau seperti itu. Meski dengan segala keterbatasan waktu, dan keseringan gagal menjalankan tugas-tugas sebagai Ibu, saya tetap mau bangkit dan melakukannya dengan segenap hati. Meski masih kadang gagal juga sih...heheheh...




Saya berpikir, mungkin selama ini saya terlalu memaksakan diri. Dengan sadar, saya cenderung menjadikan diri saya sebagai Mama yang ideal, Mama Hebat a.k.a Super Mom. Ternyata saya bukan Super Mom. Yah iyalah...menjadi Super Mom menuntut kita bisa simsalabim.... abracadabra... menyulap semua tuntutan keluarga, pekerjaan dan relasi, suami-istri, ortu-anak, menjadi teratur, berjalan harmonis tanpa meringis dan gagal. Yeaaahh..I think, I am not a Super Mom and I don't wanna be. So, please stop trying to be a Super Mom. Be a wise momma. Be a loving momma, it's better than to be a Super Mom. 
Menurut Allison Cohen, M.A.,MFT, seorang counselor, dan SaraKay Smullens, penulis dalam tulisannya di http://www.yourtango.com/experts/allison-cohen-m-a-mft/stop-trying-be-supermom-5-tips-finding-balance We must become our own loving moms to ourselves, caring for ourselves as well as we do for the others we love. Tell yourself, on a daily basis if need be, that no one or nothing is perfect, so you can stop trying to make it so.


Mencoba menjadi Super Mom, membuat kita tidak membutuhkan orang lain. Padahal, kenyataannya, kita masih membutuhkan orang lain. Paling tidak, kita butuh suami kita, papanya anak-anak, sebagai partner kita, bekerja sama dalam menolong kita mengerjakan peran ganda kita sebagai Working Mom. Kita tidak perlu menjadi Super Mom, Super Dad atau Super Parents. My kids don’t need to see a Super Mom. They need to see a Mom who needs a Super God. Anak-anak saya tidak perlu melihat Super Mom. Mereka perlu melihat Ibu yang membutuhkan Allah yang Super.

YUP!!! Di dalam tugas yang terlihat simple ini, kita tetap membutuhkan Allah yang super.