Bagi saya, Natal itu mengingatkan
saya akan kasih Allah dengan serangkaian karya agung yang dilakukan-Ny bagi
umat manusia, melalui kehadiran-Nya dalam diri Yesus Kristus. Kelahiran-Nya
membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang percaya. Bagaimana tidak, kita
adalah pendosa-pendosa yang hari ini ada dan besok tiada, bak debu yang hilang
diterbangkan angin, namun telah diberi hadiah terindah dan terbesar, yaitu
keselamatan dan kehidupan kekal.
Namun apakah benar, Yesus telah
lahir dalam hati dan hidup kita? Ataukah kita hanya sedang melakukan dan
merayakan tradisi setiap tanggal 25 Desember ? Ada seorang kawan lama yang
berbeda keyakinan dengan saya menulis dalam salah satu media sosialnya. Dia
berkata, dia mengasihi Yesus, namun tidak merayakan Natal, karena dia tahu,
Yesus tidak lahir di musim dingin. Hal itu dibahas dengan lengkap dalam
blog-nya mengenai bukti-bukti sejarah tentang kelahiran Yesus. Dalam hal ini,
saya sependapat. Bagi saya, Natal itu setiap hari. Merayakan Natal bukan hanya
setahun sekali dengan gegap gempita dengan segala sesuatu yang serba baru dan
wah. Natal itu bukan mengenai tanggal melainkan mengenai kenyataan bahwa memang
Yesus pernah lahir. Itulah kebenarannya.
Dan karena kebenaran itulah,
kita perlu dengan sungguh-sungguh merenung, sudahkah hidup kita mencerminkan
kasih Yesus yang menurut kita sudah lahir dalam hati kita? Natal yang
sesungguhnya menorehkan kesan yang mengubahkan hati dan bukan kesenangan
sesaat. Jika memang Yesus lahir dalam hati kita, tentunya kita sudah tahu,
bagaimana seharusnya kita merayakan Natal.
Allah memilih hadir ke dalam dunia untuk memulai karya penyelamatan-Nya dengan memilih seorang tukang kayu dan wanita sederhana, bahkan memilih kandang sebagai tempat lahir-Nya.
Jangan sampai deh, kita terjebak
dengan kemeriahan dan sukacita sesaat, bahkan terlena dengan segala bentuk
kemasan dunia yang menakjubkan, yang tanpa sadar, secara perlahan menggantikan
bayi Yesus.
No comments:
Post a Comment